Jejak-jejak Di Pantai Zaman

~The Footprints of Time~



Erti Sebuah Cinta

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kenderaan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lain merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yg paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakan namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang penzina dgn gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan “Kami sama-sama cinta suka sama suka.” Karena alasan cinta seorang bapak membiarkan anak-anak bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula seorang suami melepas isteri hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.

Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini setan tampil mengibarkan bendera dan menabuh genderang penyesatan dgn mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yg dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad saw. Allah berfirman:
“
Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yg diingini yaitu: wanita-wanita anak-anak harta yg banyak dari jenis emas perak kuda pilihan binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yg baik.”

Rasulullah dlm hadith
 daripada sahabat Tsauban mengatakan: ‘Hampir-hampir orang2 kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumun di atas sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah saw  berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yg dimaksud dgn al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah saw menjawab: “Cinta dunia dan takut mati”. Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsir mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini tentang keadaan manusia kaitan dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat dan Allah menjelaskan perbedaan yg besar antara dua negeri tersebut. Allah memberitakan bahwa hal-hal tersebut dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkan di dalam hati-hati mereka semua berakhir kepada segala bentuk kelazatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikan sebagai tujuan terbesar dari cita-cita cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yg sedikit dan akan hilang dalam waktu yg sangat cepat.”

DEFINISI CINTA

Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit karena tidak bisa dijangkau dgn kalimat dan sulit diraba dgn kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tdk bisa didefinisikan dgn jelas bahkan bila didefinisikan tdk menghasilkan melainkan menambah kabur dan tdk jelas definisi adalah ada cinta itu sendiri.”

HAKIKAT CINTA

Cinta adalah sebuah amalan hati yg akan terwujud dlm lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dgn apa yg diridhai Allah maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebalik jika tdk sesuai dgn ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yg bila keliru menempatkan akan menjatuhkan kita ke dlm sesuatu yg dimurkai Allah yaitu kesyirikan.

CINTA KEPADA ALLAH

Cinta yg dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yg sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dlm Madarijus Salikin berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian.”
Mereka berkata: “ ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’ ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faedahnya. Bukti dan tanda adalah mengikuti Rasulullah. Faedah dan buah adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah, maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”**
Bila demikian keadaan maka  mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah saw  bersabda dlm hadits yg diriwayatkan dari Anas bin Malik
z:
“Tiga hal yg barangsiapa ketiga ada pada diri niscaya dia akan mendapatkan manis iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain kedua dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintai melainkan krn Allah dan hendaklah dia benci utk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci utk dilemparkan ke dlm neraka.”

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab ada cinta ada sepuluh [10] perkara:-
   
1. membaca Al Qur’an menggali dan memahami makna-makna serta apa yang dimahukannya. 
2. mendekatkan diri kepada Allah dgn amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
3.   terus-menerus berdzikir dalam tiap keadaan.
4. mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolak nafsu. 
5.  hati yg selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat  Allah menyaksikan dan mengetahuinya.
6.   menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
7.   tunduk hati di hadapan Allah.
8.   berkhalwat bersama-Nya ketika Allah turun .
9.   duduk bersama orang-orang yg memiliki sifat cinta dan jujur.
0. menjauhkan segala sebab-sebab yg akan menghalangi hati daripada  Allah.


 CINTA ADALAH IBADAH

Sebagaimana telah lewat cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yg memiliki kedudukan tinggi dlm agama sebagaimana ibadah-ibadah yg lain. Allah swt berfirman:
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.”***
“Dan orang-orang yg beriman lebih cinta kepada Allah.” ***
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya.” Adapun dalil dari hadits Rasulullah  adalah hadits Anas yg telah disebut di atas yg dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”

JENIS-JENIS CINTA

Di antara para ulama ada yang membahagi cinta menjadi dua bagian dan ada yg membahagi menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dlm kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid menyatakan bahwa cinta ada empat macam: 

Pertama cinta ibadah. Iaitu mencintai Allah dan apa-apa yg dicintai-Nya dgn dalil ayat dan hadits diatas.

Kedua cinta syirik. Iaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah  berfirman:
“Dan di antara manusia ada yg menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.”

Ketiga cinta maksiat. Iaitu cinta yg akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yg diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yg diperintahkan-Nya. Allah  berfirman:
“Dan kalian mencintai harta benda dgn kecintaan yg sangat.”
Keempat
cinta tabiat. Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yg dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah  berfirman:
“Ketika mereka berkata: ‘Yusuf dan adik lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.”
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.

Buah cinta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  mengatakan: “Ketahuilah bahwa yg menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta takut dan harapan. Dan yg paling kuat adalah cinta dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.”
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di t menyatakan: “Dasar tauhid dan ruh adalah keikhlasan dlm mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabb juga sempurna.”
Bila kita ditanya  bagaimana hukum cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dgn spontan atau mengatakan boleh secara global akan tetapi jawaban perlu diperinci.

Pertama bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cinta kepada Allah maka ini adalah
cinta syirik hukum jelas haram.
Kedua bila dgn cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dlm maksiat maka cinta ini adalah 
cinta maksiat hukum haram.
Ketiga bila merupakan
cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.

Wallahu'alam.
Sumber: www.asysyariah.com Penulis Al-Ustaz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

BUKTI CINTA SEORANG SUAMI KEPADA ISTERI DAN KELUARGANYA


Kalimat cinta sungguh syahdu diungkapkan untuk didengari sang perawan . Begitulah kebalikannya, ia sangat didambakan sang pria yang dilambung deru angin cinta. Setiap patah perkataan yang dilontarkan berbunga-bunga walaupun berada dalam musim panas dan daun daunan kering berguguran.  Namun sesudah melampaui beberapa musim sejak diijab qabulkan, mahligai damai yang dijanjikan dan bulan serta bintang yang ditawarkan sebagai pernyataan cinta sejati , kini telah tidak memberi erti lagi justeru segala dambaan materi oleh rakus nafsu telah menjadi biasa  dan membosankan jiwa.


Bait-bait dan stanza-stanza puitis cinta tidak lagi didendangkan lantaran jiwa dan semangat muda sudah luntur. Bahtera perkahwinan memasuki samudera baru dan luas. Gelombang dan badai makin ganas dan menggerunkan. Nakhoda@juragan semakin cemas dan mabuk tidak keruan dilambung ombak besar. Tiap lantunan dan hunjaman ombak menantikan saat terpecahnya bahtera atau tertelannya bahtera dalam ngagaan mulut ombak raksasa.


Inilah gambaran kehidupan sebuah rumahtangga dengan berketuakan seorang suami@ayah yang tidak ada kemahiran mengemudi bahtera merentasi samudera kehidupan lantaran bekalan ilmu pelaut tidak dituntut dengan mendalam sebelum menyambut cabaran mengemudi bahtera besar Si Mendam Berahi. Isteri berpeleseran dalam kapal; anak-anak berkeliaran di geladak menikmati kemanisan duniawi yang mengkhayalkan.


 Nah! Mana dia bukti dan tanda sebuah cinta seorang suami yang Muslim berbanding Si Pelaut yang mabuk ini? Waduh! Jawabannya memang senang untuk diungkap, tetapi pelaksanaannya tetap gawat dan sulit digarapkan tanpa kesungguhan dan keikhlasan karena Allah, sebab ditakuti dayung tetap akan menunggu saat patah lantaran kerasnya pukulan deru ombak besar yang tidak kenal penat lelah mengejar pantai. Ayuh! Bangunlah kamu daripada pitam dan mabuk yang melekakan. Karena ombak tidak akan berhenti memukul sampai bila-bila. Saat aman dan tenang hanya seketika. Lunaslah tanggungjawabmu segera sebelum badai yang lebih besar menjelma.


Ingatlah kembali khutbah nikahmu. Apa kata Sang Kadhi agar kamu tidak tewas menyeberang lautan tak bertepi. Rentaplah tali pengikat di pengkalan. Bawalah isterimu yang baru menjadi kekasih bersamamu. Bawalah bekalan yang cukup. Ajarlah dia dengan ilmu pelaut. Mahirkanlah dia dengan ilmu bintang agar pelayaran tika malammu tidak menyesatkan. Anak-anakmu yang bakal lahir di atas bahtera itu, jadikanlah mereka kelasi-kelasi handal yang bukan sekadar berani merentas lautan, malah tidak gerun menentang lelanun yang mahu menumpaskan kamu sekeluarga agar tidak sampai ke Pulau Harapan. Bacalah sepuas hati mu lautan kecil dan besar yang kau lalui, agar ia menjadi lembaran kitab yang menajamkan aqalmu dan hatimu tega  berkorban menegakkan sebuah Baitul Muslim yang akan menyebarkan dakwah ke segenap pelusuk dan rantau yang kamu singgahi. Rawatlah luka dan dukamu dengan banyak berzikir ayat-ayat Allah. Peringatilah mereka, isteri dan anak-anakmu supaya tidak terpesona dengan kekayaan yang ada di bawah permukaan air. Ambillah sekadar perlu supaya alam laut tidak sirna lantaran tanganmu. Dan pastikan bahteramu sampai berlabuh di pantai syurgawi.  Itulah bukti dan tanda cintamu yang abadi. Cinta yang mengarah kepada keredhaan Tuhan Sarwa Alam. Bukan sekadar pandai beri makan dan minum kepada anak bini, mententeramkan  luapan  rasa rindu dendam isteri, macam orang lain yang juga mendakwa mencintai  isteri dan menyayangi anak-anak, namun hanya sekadar menyuapkan mulut yang ternganga, menyelimuti kesejukan tubuh yang menggigil dan menyekolahkan mereka untuk mengenal ABC @ alif ba' & ta'! Mencintai dan menyayangi mereka mesti dizahirkan dengan kerja keras memimpin mereka kepada syurga Allah dan menghindari malapetaka dahsyat neraka. Perhiasan duniawi dalam bentuk ilmu ontologi yang tidak berpaksikan Tauhid tiada maknanya; gelang emas dan permata mahal tiada ertinya, jikalau sentuhan tarbiyah tidak meratai dan menembusi jiwa anak-anak dan isteri-isteri yang seseungguh dan sepatutnya menjadi agenda utama dan tetap dalam kehidupan yang penuh dengan cinta membara. Ia harus dinyalakan saban tika, setiap saat ia panas membakar kesilapan dan dosa. Semua ini berlaku dalam tasbih dan zikir cinta abadi seorang suami dan ayah pada sebuah keluarga.


Inilah digelar Cinta Sejati. Cinta seperti ini tidak ada pada sang suami yang gersang dan tandus iman, yang hidup hanya sebagai manusia kerdil dan mati juga sebagai manusia kerdil, justeru terpisahnya iman dan praktis kehidupan Islaminya dengan ahli masyarakat, kecuali dalam lingkungan keluarganya sendiri.

Wallahua’lam.

Qalamunir
26 Februari 2012

JADILAH KUDA DAKWAH JANGAN JADI KELDAI DADAH

Dalam banyak-banyak keldai didunia, keldai dadahlah yang membawa beban paling ringan tetapi paling bernilai dari segi matawang dunia. Kalau kita bandingkan dengan keldai yang berjuang bersama-sama para Mujahidin Afghanistan  menentang kuasa Kuffar, mereka membawa senjata berat seperti meriam, peluru dan bekalan makanan para pejuang. Walaupun teramat berat, mereka tetap tegar dan tega melangkah terhegeh-hegeh  di tepian tebing dan cenuram bukit dan gunung atas semangat G-had yang jitu membara. Keldai-keldai jenis ini adalah keldai kelas pertama yang berjiwa waja mempertahankan deen Allah bersama pejuang-pejuang yang cinta kematian dan syahid. Keldai-keldai ini juga cintakan kesyahidan.


Berbanding manusia daripada kalangan anak muda  yang suka menjadi keldai bodoh membawa dan mengedar dadah, lantaran ingin kerja mudah dan cepat kaya, sanggup meletakkan diri dalam penjara dan leher dipasrahkan ke tali gantung. Alangkah ruginya kehidupan yang sebegini, khususnya para pemuda yang sepatut berjiwa agama dan menjadi kuda-kuda dakwah yang kental menonggak panji-panji kebenaran, karena mengejar keuntungan berlipat ganda dalam kehidupan akhirat, bukan sekadar mendapat upah membawa dadah sebab mengkeldaikan diri. Surah al- 'Adiyaat menjelaskan betapa sikap kuda-kuda dakwah sanggup berlari kencang, bersungguh-sungguh menyerbu dan menyerang musuh Allah, sedangkan mereka hanya makan rumput-rumput kering. Berbeza orang-orang Islam sekarang walaupun masih muda dan banyak makan makanan dan minuman berkhasiat, namun tidak ada tenaga dan kemahuan untuk melaksanakan tugas serta tanggungjawab agama Allah di atas bahu mereka karena cinta kepada harta benar-benar berlebihan.


Dalam perjalanan hidup yang telah disusuri setakat ini, sisa umur yang masih ada menandakan pamitan yang kekal menuju kesirnaan, maka elok berpalinglah ke belakang seketika dan lihatlah jalur kenangan yang telah diukir dan ditinggalkan - adakah ia penuh dengan kebaikan atau kemusnahan serta keburukan yang bakal dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, auditor teragung yang akan mengaudit setiap geraklaku dan perasaan, sama ada diperhambakan kepada Nya sebagai Sang Pencipta atau menjadi pendokong dan juak-juak syaitan dan iblis sepanjang perjalanan hidup.


Wallahua'lam, 


Qalamunir
23 Februari 2012

PENCEN KUBUR VS PENCEN DUNIA


Orang Malaysia kuat bekerja. Daripada umur pencen 55 naik menjadi 56. Kemudian melonjak lagi ke 58. Dan sekarang tawakkuf pada 60 tahun. Pencen swasta atas saranan MTUC mungkin diperkenankan jadi 64 tahun. Maka bekerjalah sang manusia Malaysia siang malam, berlemus mencari makan macam ayam dan itik, asyik mengais dan menyudu setiap detik dari subuh hingga alam tenggelam dalam kelam malam. 

Ada orang yang buat pilihan umur pencen 50 @ 56 tahun karena hendak memanfaatkan sisa waktu untuk perkara lain yang aula dan afdhal daripada terperuk dalam minda kusut cari makan alias tunggu naik pangkat lebih tinggi dengan macam-macam cara dan pendekatan. Ada yang menyondol dan meranduk seperti kambing liar tak bertuan, meragut apa saja yang sempat tibai melalui orang-orang berpengaruh yang boleh melonjakkan kerjaya, walaupun diri sendiri tidak layak memegang pangkat tinggi.  Sungguh ramai manusia sekarang ini mengemis pangkat dan jawatan, sedangkan orang Islam yang beriman menolak kalau diberi pangkat/jawatan karena khuatir akan amanah yang akan ditanggung untuk dilaksanakan. Orang Islam yang hilang sifat tawaddhuk, tidak malu  meminta dan terhegeh-hegeh mengejar tulang kering macam anjing kebuluran, bila dihulur pangkat dan jawatan. Bila ditanya kenapa kejar kedudukan dan pangkat? Jawabannya: mahu dikenali dan dihormati, yang penting sekali adalah ganjaran bulanan yang besar. Akhirnya bila pencen, dapatlah elaun pencen yang agak lumayan untuk berkayuh dalam kehidupan serba kekurangan daripada dulu yang sarat dengan berbagai elaun dan imbuhan.

Pencen dunia: ramai orang yang berkira-kira sejak memasuki status pengesahan jawatan tetap dan berpencen. Namun tidak ramai yang berperancangan jauh melewati jendela dunia untuk mentaksirkan secara awalan, berapa agaknya ia akan dapat pencen di akhirat, apabila sudah dibangkit selepas barzah. Tidak terfikirkah berapa banyakkah modal dan simpanan yang telah disediakan untuk kehidupan yang kekal abadi? Tidak terfikirkah aset dan tabungan yang berjuta itu bisakah dibelanjakan dan dihabiskan dalam tempoh hayat yang tidak tahu di mana noktahnya? Ingatkah kepada infaq, derma, sedaqah, wakaf, zakat dan sumbangan lain yang memperbanyakkan jumlah elaun pencen di alam kubur dan akhirat? Semuanya manusia tidak ingat, kecuali yang dita’alim dan ditazkirah mengenai kehidupan selepas mati sepanjang jalan kehidupannya. Nampak jelas azab api neraka dan jelas pula nikmat jannah yang tidak terhingga. Orang-orang yang dapat visualized realiti ini adalah individu-individu seperti Bilal bin Rabah, Abu Bakr as Siddiq, Ammar bin Yasir, Hanzalah dan peribadi-peribadi lain yang hebat. Mereka hebat karena iman mereka sungguh ngetop tinggi, walaupun ilmu belum setinggi mana. Iman mereka terbina kukuh sebelum al Quran diturunkan. Keadaan  kita pula berbeza. Quran sudah lama diturunkan, diperdengarkan dan disayembarakan, namun iman susah untuk meningkat. Gambaran alam kubur dan kiamat makin pudar pada titik mata. Yang sentiasa terang benderang adalah dunia yang menipu laksana kelkatu yang terpedaya oleh kilauan lampu yang  akan membakar sayap dan tubuhnya.

Justeru, majlis-majlis ilmu yang tumbuh dan berkembang subur di merata ceruk dan pelusuk Negara perlu berjalan dalam suasana mendidik @ mentarbiyah secara tersusun dan dipantau perkembangan dan peningkatan audiensnya dengan rapi. Dari aspek dan sudut bacaan Quran, aqidah Islam, takrif Islam, fardhu ‘ain, fiqh, sirah Nabi dan Sahabat, hadith serta asesori-asesori lain yang  perlu untuk memantapkan jiwa agama supaya mekar cintanya kepada Allah dan Rasul. Majlis-majlis ilmu tidak boleh lagi dikendalikan secara sambil lewa dan santai macam mendengar cerita penglipur lara Awang Batil, Tok Selampit, Ramayana, Panji Semirang dll. Atau macam mendengar lawak jenaka daripada Raja Lawak atau Talk Show Oprah yang penuh dengan lelucon untuk memeriahkan suasana agar tidak diserang kantuk. Namun apa yang dipelajari akhirnya adalah kekosongan lantaran hati dan minda tidak serius karena penuh dengan hilai tawa. Kehidupan seorang Muslim adalah fokus dan serius. Oleh itu jiwanya perlu dibentuk untuk sentiasa serius dengan kerja dan tugas yang Allah telah letakkan di atas pundaknya, sebab ia tahu bahawa tugasnya terlalu banyak sedangkan masa terlalu sedikit dan singkat untuk disia-siakan.

Iman itu mahal. Jalan untuk memperolehinya juga adalah mahal! Kita mesti bersedia berkorban masa, harta dan keselesaan serta kerehatan untuk menikmati keimanan yang tulin macam generasi awal Al Quran. Kita perlu memohon kepada Allah swt untuk membantu kita berada atas jalan kebenaran dan istiqamah pada jalan Nya sampai ke akhir waktu untuk Pencen Kubur  yang lumayan dan mendapat layanan baik di akhirat daripada Allah, Tuhan Sarwa Alam.

Wallahu'alam.

Qalamunir
18 Februari 2012

KEJAHATAN MALAM : AWASILAH AKHLAK MU

Kalau dulu kita bicarakan isu keremajaan satu kegilaan, kali ini kita tinjau pula bab kejahatan malam. Allah ciptakan malam untuk menggantikan siang yang cerah yang memenatkan fizikal dan fikiran, sebagai tempat berhenti seketika untuk melepaskan lelah dan menidurkan badan  yang keletihan. Malam adalah masa yang Allah peruntukkan kepada sekalian manusia buat mengira untung rugi transaksi atau urusniaga siang hari. Melakukan timbang amal dan memikirkan kesan perbuatan dan perlakuan seharian, sama ada beroleh laba, rugi atau celaka dan sia-sia.



Senjakala bermula tanda pelabuhan malam yang sepi sedang masuk beradu. Manusia beriman sepatutnya menggunakan malam untuk kembali ke pangkuan keluarga di rumah yang berfungsi merawat cinta kasih dengan belaian kemanisan serta kelembutan kasih sayang menerusi pergaulan intim antara ayah ibu dan anak. Memekarkan jiwa sang anak dan sang isteri dengan sesi bacaan tartil al Quran sebagai wirid harian yang mengasyikkan. Menjernihkan sanubari menerusi sedutan hadith Nabawi yang mengajar nilai Rabbani untuk terus kental memegang erat tali Allah. Meredakan gelabah jiwang orang muda yang terseksa dihimpit derita lonjakan nafsu yang sentiasa meruntun, lantaran nanar melihat gelagat manusia yang hampa nur kasih dan hidayah Ilahi. Betapa rumah adalah pelabuhan bening yang bersedia merawat kegawatan dan kepenatan hidup, justeru terhimpit dan dihempap bebanan duniawi yang memperdaya, menyonsong sampah sarap manusia ke cerun-cerun kehidupan yang menghitamkan seluruh catatan amal.


Kalau kita bertanya mengapa dan kenapa anda mahu keluar malam? Si anak muda akan menjawab selamba, "Ah! duduk di rumah merimaskan, memeningkan, memanaskan baran jiwa yang sudah senak dengan tekanan hidup, tiada privasi, "  Kita tanya lagi, mengapa ada stres di rumah anda?  Jawabannya; rumahku kosong rasa persaudaraan, tak tahan bebelan dan leteran keluarga, ayah ibu sibuk cari makan je, anak ikut suka buat hal sendiri le". Gelagat dan respon seperti ini mencerminkan rencam remaja dan anak muda yang kejauhan nilai dan budi insan yang memiliki jiwa yang redup dan mantap mendayung arus hidup yang pantas, terutamanya di kota metropolitan. Bagaimana dengan jiwa dan tingkah laku hidup si anak muda di kampung dan pinggiran kota. Keluh kesahnya sama saja, derita batiniyah dan rasa kejiwaan yang luntur dek ganyangan deru habuk dan asap kehidupan yang tidak dipedomkan oleh deen, sudah tentunya menggagalkan maksud dan halatuju sebuah rumahtangga Muslim. Jebak kemungkaran dan kebatilan kuffar telah menghitamkan wajah manis dan jernih insan muda yang putih bersih fitrahnya suatu masa dulu, kini menagih simpati usapan dan dorongan para dai'e bagi melerai dan merongkaikan kekusutan serta simpulan kemiskinan dan ketandusan  jiwa yang kian meruncing.


Malam dengan kegelapan yang dihiasi lampu-lampu menawan. Kerdipannya menggamit jiwa lara untuk mencari ketenangan palsu dan sementara dalam pelukan dan usapan tangan-tangan hitam dan kuning di lorong dan jalanan, jualan peribadi-peribadi sumbang yang mencari makan. Gerai makan, restoran 24 jam seolah bergabung dengan pub, kelab malam, pusat karaoeke untuk memakmurkan malam. Agar anak muda dan remaja berpeleseran ke hujung malam dan pulang ke laman rumah bila fajar awal menyinsing. Inilah fenomena kehidupan malam zaman kontemporari. Ia berdiri bukan sebagai qiam mengingati dan mendekati Pencipta, malah bermaksiat terhadapNya. Sorak sorai terbit dari gelak dan tawa mematikan fikiran dan jiwa. Ada yang tersungkur rebah lantaran bahana syabu, arak, betina dan kalah judi. Ada pula yang hilang nyawa karena dipukul samseng kebetulan berada di tempat yang salah dan masa yang salah.


Anak muda dan remaja yang dikasihi dan dirahmati Allah, nyawa adalah aset. Umur yang Allah berikan sepatutnya digunakan untuk menanam benih-benih syurga di atas muka bumi yang sementara ini. Awasilah akhlakmu. Jangan biarkan kawan dan rakan dan segala kehidupan hedonistik merompak harta anda yang satu-satunya amat berharga - iaitu NYAWA anda dan Masa Depan Akhirat anda!


Wabillahi tawfiq wakafa billahi wakila.


Qalamunir


15 Februari 2012



JAHIL DALAM MENTAATI ALLAH = ENGKAR KEPADA ALLAH

Bagaimanakah halnya kalau kita mentaati Allah dalam keadaan kita jahil serba serbi tentang perkara-perkara asas  Islam? Para alim menjelaskan bahawa keadaan itu sangatlah berbahaya sekali, karena amalan seseorang yang tidak berasaskan ilmu samalah seperti ia tidak beramal. Justeru kalau ia dianggap tiada beramal maknanya ia engkar kepada Allah. Satu suasana yang amat merugikan.


Kalau kita pandang-pandang di sekeliling dan sekitaran kehidupan kita, tampak jelas sekali pekerjaan dan amalan yang dilakukan oleh sebahagian anggota masyarakat, dibikin secara hantam kromo. Jika kita menjadi pengamat yang peka, kita akan dapat melihat macam-macam cara orang mengambil wudhu'; macam-macam stail orang bertakbir semasa solat; berbagai posing sewaktu qiam@berdiri; begitu juga halnya semasa ruku'; duduk antara dua sujud serta sewaktu membaca tasyahud. Ini adalah rentasan kecil mengenai kehidupan beribadat manusia awam yang belum lagi menyinggung perihal pembangunan fikrah,  kemurnian dan kesahihan deen. Apatah lagi bila dikaitkan dengan kepekaan terhadap menjalankan kerja-kerja dakwah Islam, yakni menganjurkan kebaikan dan amal salih dalam kejiranan dan masyarakat umum atas rasa tanggungjawab Rabbani. 

Kejahilan menuntut pembelajaran berterusan hingga ke liang lahad. Selagi hidup dan mahu terus maju dalam beragama, memerlukan jiwa yang sentiasa cenderung dan dahagakan ilmu. Ilmu tidak datang secara automatis tanpa mempelajari. Ia harus berjuang dan berkorban masa, harta dan keselesaan demi mendaki aqabah ilmu yang tinggi, agar memiliki asas agama yang kukuh dan mengetahui prinsip-prinsip ilmu untuk membolehkan seseorang itu menilai dan membandingkan antara kebenaran dengan kebatilan. Kalau prinsip dan asas ilmu tidak mantap, sekadar pengetahuan Islam tahap Tingkatan 5 SPM, sudah barang pasti seseorang itu tidak punya cukup kapasiti untuk beraksi dan menghayati kehidupan Islaminya dengan berjaya, karena akan sering digomoli oleh masalah bersangkutan aqidah dan juga berkaitan segala cabangan amal yang boleh memeningkan kepala lantaran kedangkalan ilmu.

Justeru hidupkanlah halaqah, usrah, grup diskusi, bicara intelektual, sesi tadah kitab muktabar, ziarah ulama dan usaha-usaha lain yang membina ruang minda dan cendekia seseorang untuk terus kukuh ilmu dan mantap jiwa bagi mendepani rencam mainan duniawi dan gelojoh nafsu dalam melampiasi kehendak badani.

Wabillahi tawfiq wa kafa billahi  syahida.

Qalamunir
04 Februari 2012 

YA ALLAH! SUDAH TUAKAH AKU?



Tahun Hijrah 1432 dan Masehi 2011 melabuhkan tirainya diiringi senandung malam yang bening. Tiada pamitan dan gamitan melepaskan tahun yang berlalu. Pergilah mereka sebagai hamba Allah, entah ke mana. Tersimpan kukuh mencatat zaman yang menghilang. Tidak bisa dikembalikan lagi, walaupun dengan harga segunung emas. Demikianlah umur muda berlari pantas berterbangan menuju ufuk sepi. Dalam terbangannya ia mengumpul episode suka dan luka persis wirawan yang gagah menerjah medan tempur dengan gegak gempita perisai mendepani cabaran getir zaman.

Si anak muda kini dewasa. Si ayah dan ibu berkedut dahi dan tangan. Si perawan, kulitnya tiada halus dan tubuhnya tiada mulus lagi karena mendaki umur super dewasa. Semuanya meniti usia dengan masing-masing mengelek dosa dan pahala.  Sewaktu remaja dan perawan dulu, bercita-cita mahu menggapai awan, berlari-lari dalam kabus pagi mengejar pelangi. Selepas tercapai cita barulah mahu tumpukan masa mengadap tuhan dan  tekun beribadat. Namun masa yang luang dan santai yang ditunggu-tunggu selepas terpenuhnya cita, tiada singgah di sisi. Cabaran, hambatan, kekangan dan segala runtunan duniawi tetap berlaku sampai saat ini. Tugas diri memikul tanggungjawab Rabbani bukan sekadar menjadi baik untuk diri sendiri. Bukan terpenuh sekadar baik untuk keluarga kecil peribadi. Malah baru terpenuh apabila tanggungjawab itu dilebarkan merata dalam segenap lapisan masyarakat yang kita bersemuka. Antar hubungan yang rapat lagi intim dengan setiap oknum masyarakat adalah masih tanggungjawab Rabbani yang mesti terlaksana. As Syahid Syed Qutb pernah berkata; seorang Muslim yang hidup untuk dirinya sendiri akan menjadi manusia yang kerdil, berbanding seseorang yang hidup untuk dirinya dan orang lain.

Ramai orang mengeluh, kalau dulunya kesempitan wang dan terpaksa berlemus mencari rezeki menyebabkan tiada masa untuk diberikan kepada Tuhan. Bacaan al Quran pun semput nafas lantaran mengejar masa. Dapat satu dua ayat pun rasa bertuah. Apatah lagi kalau mencapai satu halaman. Kini pencapaian yang begitu rendah menjadi lebih rendah apabila tertingkat usia dalam jalur dewasa. Macam tidak tertangkap perkara yang dulu bisa terlaksana, walaupun kini masa luang terbuka. Pengajaran yang bisa diambil adalah jangan sangka sesuatu itu bisa diubah bila meniti usia tua, kalau ia tiada pernah diamalkan dan dijenuhkan sebagai cara hidup yang dibiasakan sehingga menjadi malakah atau tabiat dan rasa hati nurani yang mengakari dalam kehidupan seorang Muslim yang gencar melakukan kerja-kerja dai’e yang sentiasa mengajak dan mengajar manusia berbuat baik dan menegah maksiat terhadap Allah swt.

Tiba-tiba kita dikejutkan oleh umur tua.  Ya Allah!  Sudah tuakah aku? Kapan pula aku jadi begini tidak diketahui lantaran seronok mengisi dunia sesendat perut yang tidak akan lebih besar untuk menelan gunung dan bongkah ais di kutub utara. Wahai diri yang satu dan sepi sejak awal kedatangan ke dunia. Engkau tetap akan kesepian walaupun kini didampingi isteri-isteri yang ramai dan anak pinak serta sanak saudara yang memeriahkan suasana melalui sembang-sembang facebook sampai jauh malam, sehingga meninggalkan suami@isteri yang fana di pembaringan. Mungkinkah itu baringan yang terakhir dalam lafaz duka menanti teman yang sudah kehilangan dalam maya.

Kita semua sudahpun tuha. Justeru apakah  telah kita semak kerja-kerja kita sama ada Rabbanikah ia dalam seluruh juzuk kehidupan ini. Atau terlalu duniawikah ia semacam kehidupan orang lain  yang tiada kisah tempat kembali di akhirat. 


Jangan sampai sepi mengiringi sepi. Jangan sampai pilu mengiringi pilu. Sendu hati yang tenggelam dalam pukulan pekat malam, akhirnya terjaga dalam alam yang asing menuju Tuhan Sarwa Alam. Sepi itu sendu. Sendu itu pilu. Pilu  itu duka. Duka itu sengsara. Sengsara itu derita, lantaran kehidupan duniawi terlupa menjadi manusia yang hidup untuk kebaikan manusiawi.


Salam kasih sayang untuk semua di ruang maya.


Wallahua’lam.

Qalamunir
24 Januari 2012